Search
Senin 25 Januari 2021
  • :
  • :

Meski Pandemi, Kinerja Perbankan di Sulut Masih Tetap Aman

Manado – Kinerja perbankan di provinsi Sulawesi Utara (Sulut) dinilai aman meski dalam pandemi covid-19. Hal tersebut dikatakan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulutgomalut, Darwisman dalam konfrensi pers yang dilakukan secara virtual terkait perkembangan industri perbankan.

Darwisman mengatakan, indikator rasio kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) tercatat 3,44 persen atau masih di bawah ambang batas 5 persen.

“Peningkatan NPL masih relatif aman, karena masih di bawah 5 persen. Bahkan masih lebih rendah dibandingkan Desember 2019 yang tercatat sebesar 3,51 persen,” kata Kepala OJK Sulutgomalut Darwisman

NPL merupakan indikator adanya kredit macet. Menurutnya hal tersebut tak bisa dipungkiri karena pandemi covid-19 telah beberapa sektor termasuk perekonomian dan industri jasa Keuangan.

“Dengan NPL sebesar 3,44 persen, maka kinerja perbankan secara umum masih aman,” ujarnya Darwisman

Darwisman mengatakan, sejak April 2020, OJK telah merilis kebijakan relaksasi kredit kepada para debitur perbankan yang aturannya sudah dituangkan dalam Peraturan OJK (POJK) Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional, sebagai antisipasi dampak Penyebaran covid-19.

Untuk total aset menunjukkan kinerja yang cukup baik, dengan capaian Rp70,14 triliun atau tumbuh 11,99 persen (yoy) dan 12,07 (ytd). Sebelumnya pada Desember 2018 mencatat Rp55, 9 triliun, Oktober 2019 sebesar Rp63, 42 triliun dan Desember 2019 sebesar 62,6 triliun.

“Total aset perbankan di provinsi Sulut terus mengalami peningkatan, sampai posisi Oktober 2020 mencapai Rp70,1 triliun, ” jelas Darwisman.

Untuk profil penyaluran kredit, juga meningkat sebesar 0,68 persen (yoy) atau sebesar Rp41 triliun, dibandingkan Desember 2018 yang mencapai Rp37, 9 triliun, dan Oktober 2019 sebesar Rp40, 63 triliun serta Desember 2019 sebesar Rp40, 7 triliun dengan pertumbuhan 7,47 persen.

“Pada periode yang sama penyaluran kredit mencapai Rp41 triliun. Selanjutnya untuk Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp31, 2 triliun dengan NPL 3,44 persen dan LDR sebesar 130,92 persen, ” ujarnya.

Selain itu, OJK juga telah berkomitmen mendukung pemerintah untuk Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dengan mengeluarkan kebijakan pasar modal dengan beberapa kebijakan seperti, kebijakan dalam merespon Covid-19, dan menyusun regulasi termasuk standar akuntansi yang mendukung program PEN.

“Selain mengeluarkan kebijakan, OJK juga berkoordinasi dengan instansi lain dalam pemanfaatan pasar modal sebagai sumber dana dalam upayan pemulihan ekonomi nasional,” jelas Darwisman, Kepala OJK Sulutgomalut, Rabu (23/12/2020).

Darwisman sendiri mengaku, akan banyak tantangan dalam pengembangan pasar modal seperti, bagaimana cara meningkatkan jumlah investor (dari sisi demand) dan meningkatkan jumlah emiten yang tercatat di Bursa (dari sisi Supply).

“Dari sisi demand, OJK telah melakukan upaya-upaya penguatan dalam mendukung program PEN. Diantaranya, simplifikasi pembukaan rekening efek, pengembangan e-IPO, sosialisasi terpadu pasar modal serta memperbanyak galeri investasi,” ujarnya

Dari sisi Supply, sosialisasi kepada calon emiten bekerjasama dengan Kementrian Keuangan dan Kementrian Dalam Negeri (Penerbitan Obligasi Daerah oleh Pemda), mempermudah penerbitan Medium Term Notes (MTn) tanpa melalui penawaran umum, serta pengaturan terkait Equity Crowdfunding (ECF).

“Itu semua yang di upayakan oleh OJK. Dimana sasaran utamanya adalah para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM),” pungkasnya