Search
Sabtu 15 Agustus 2020
  • :
  • :

Ir SBAN Liow Sosialisasikan Empat Pilar MPR RI di Kota Tomohon

Ir SBAN Liow saat mensosialisasikan empat pilar MPR RI (Foto: speednews)

 

TOMOHON – Anggota badan sosialisasi MPR RI dari kelompok DPD RI Ir SBAN Liow, MAP yang juga saat ini dipercayakan sebagai wakil ketua kelompok atau fraksi DPD RI di MPR RI melaksanakan sosialisasi empat pilar MPR RI di GOR Babe Palar Tomohon, Selasa (07//07/20).

 

Liow mengatakan Indonesia memilik fondasi yang kuat yang dikenal dengan istilah empat pilar tersebut adalah Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, UUD tahun 1945 sebagai konstitusi negara serta ketetapan MPR RI, NKRI sebagai bentuk negara dan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.

 

“Empat pilar tersebut telah menjadi sejarah perjalanan bangsa Indonesia, dan menjadi komitmen kebangsaan yang harus terus ditingkatkan,” ujar anggota DPD RI Perwakilan Sulut ini.

 

Kata Liow, penyelenggaraan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan ini merupakan implementasi dari tugas konstitusional MPR RI dan pelaksanaan amanat UU No. 17 tahun 2014. 

 

Semangat menjaga seluruh persatuan senantiasa diperjuangkan oleh MPR RI melalui berbagai kegiatan masyarakat dengan nilai-nilai empat pilar MPR RI.

 

“Nilai-nilai empat pilar sebagai legacy yang sudah sepatutnya harus kita jadikan warisan kebangsaan yang harus kita jaga kita rawat dan yang lebih penting lagi kita hadirkan dalam setiap ruang publik dalam tata kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” terangnya.

 

Lanjut kata Liow, tugas dan kewajiban MPR RI adalah mensosialisasikan atau memasyarakatkan empat pilar MPR RI, mengapa ini harus perlu disosialisasikan?

 

“Karena sampai sekarang ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita masih mengalami tantangan, pergumulan dan pencobaan baik secara internal maupun eksternal,”  terangnya.

 

Saat ini Indonesia sedang dihadapkan pada berbagai tantangan bangsa seperti radikalisme, terorisme, intoleransi, anti NKRI, anti Pancasila.

 

“Untuk itu, permasalahan tersebut harus dapat diatasi melalui teologi kerukunan yang tidak hanya damai, tetapi juga saling membantu,” terangnya. (redaksi)